Philosophy

  • Dibaca: 878 Pengunjung

     

  FILOSOFI PENDIDIKAN DI STPBI

              Pada dekade terakhir ini dampak globalisasi dan teknologi informasi sudah semakin nyata dirasakan  oleh seluruh lapisan kehidupan masyarakat dunia. Dampak yang dimaksudkan adalah semakin meningkatnya aktvitas dan mobilitas manusia baik di tingkat nasional, regional, maupun di tingkat global. Meningkatnya aktivitas dan mobilitas manusia menimbulkan kebutuhan-kebutuhan, persoalan-persoalan, dan tantangan-tantangan kehidupan yang sangat kompleks.

           Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, persoalan-persoalan, dan tantangan-tantangan hidup yang sangat kompleks tersebut, munculah berbagai insudstri di berbagai sector perekonomian yang sangat pesat dengan jumlah dan kualitas yang semakin meningkat pula. Sejalan dengan perkembangan arus globalisasi  tersebut pariwisata juga telah berkembang dan menjadi salah satu industri yang sangat dinamis dan prospektif. Dilihat dari segi penciptaan penambahan nilai dan kesempatan kerja pariwisata merupakan industri terbesar didunia.

     Secara sederhana, pariwisata diidentikan sebagai industri yang hanya sekedar menyuguhkan keanyamanan dan kesenangan bagi para wisatawan atau bagi orang-orang yang sedang melakukan perjalanan wisata. Akan tetapi dengan semakin meningkatnya perekonomian masyarakat yang melakukan perjalanan wiasata , maka kebutuhan-kebutuhan, tuntutan-tuntutan, persoalan-persoalan, yang ditimbulkan juga semakin meningkat. Hal ini, menimbulkan persaingan yang sangat ketat di antara produsen pariwisata baik dari segi kuantitas dan kualitas produk dan jasanya. Di samping itu juga sekaligus menimbulkan kesempatan dan tantangan bagi pelaku dan pengembang pariwisata.

            Ketatnya persaingan di industri pariwisata tersebut menuntut tersedianya layanan produk dan jasa yang berkualitas, sarana dan prasarana mutakhir, dan sumber daya manusia yang handal dan kompeten di bidang profesi dan di jenjang jabatannya.

      Tuntutan terhadap sumberdaya manusia yang handal, kompeten di bidang profesi dan di jenjang jabatannya untuk dapat menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas, maka sangat dibutuhkan lembaga pendidikan dan pelatihan perhotelan dan kepariwisataan yang professional dan berkualitas unggul. Hal ini didasarkan pula atas dinamika ekspektasi pengguna produk dan jasa pariwisata yang semakin hari semakin meningkat (the rising customer expectation).

       Yayasan Dharma Widhya Ulangun berkedudukan di Jalan Tari Kecak No. 12 Denpasar. Maksud dan tujuan yayasan ini adalah bergerak di bidang. jasa pendidikan,  pelatihan, dan  konsultansi di bidang manajemen hospitaliti (perhotelan dan pariwisata).

      Sejak beberapa tahun Yayasan  ini telah mengidentifikasi dan menganalisis fenomena ini, untuk  mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan, persoalan-persoalan, dan tantangan-tantangan kehidupan tersebut secara cermat dan tepat. Atas dasar itu pula pada tahun 2000 telah didirikan lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata yang diberi nama Sekolah Perhotelan Bali atau lebih dikenal dengan nama SPB yang berlokasi di Jln Kecak no.12. Denpasar. Bali. Sekolah Perhotelan Bali (SPB) ini, merupakan salah satu unit usaha Yayasan. yang bergerak di bidang usaha jasa pelatihan dan keterampilan tenaga kerja khususnya tenaga kerja perhotelan dan pariwisata.

          Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan perhotelan dan pariwisata yang unggul dan kompetitif, Yayasan Dharma Widhya Ulangun mendirikan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional yang selanjutnya disingkat STPBI. STPBI  adalah lembaga pendidikan tinggi di bidang kepariwisataan yang bernaung di bawah Yayasan Dharma Widya Ulangun Denpasar. Pembinaan teknis akademik STPBI dilakukan oleh Kopertis Wilayah VIII di bawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.STPBI berdiri berdasarkan SK Menteri Pendidikan NasionalRepublik Indonesia Nomor:  001/D/O/2008 tertanggal 2 Januari 2008. STPBI dipimpin oleh seorang Ketua yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Yayasan.

Landasan filosofis pendidikan di STPBI adalah holistic, yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

         Pancasila adalah Dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila yang dimaksud adalah Pancasila yang rumusannya termaktub dalam “Pembukaan” Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Karena Pancasila adalah dasar Negara Reublik Indonesia implikasinya maka Pancasila juga adalah dasar pendidikan nasional. Sejalan dengan ini pasal 2 Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa:”Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republk Indonesia Tahun 1945. Landasan filosofis  pendidkan di STPBI adalah  mengacu kepada landasan filosofis pendidikan nasional yaitu filsafat pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.  Dengan demikian diharapkan dalam proses pendidikan tersebut tidak akan terjadi kesalahan konsep pendidikan yang akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam praktik pendidikan. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah sebagai dasar dan titik tolak pendidikan di STPBI.  Sehingga tujuan pendidikan di STPBI adalah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.

            Dalam mengimplementasikan Pancasila dan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan filosofi pendidikan di STPBI maka seluruh civitas akademika sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Kebenaran ilmiah, Penalaran, Kejujuran, Keadilan, Tanggungjawab, Kebhinekaan, Kekeluargaan, Mutu, dan Kebersamaan. Hal ini dilakukan agar tercapainya keharmonisan dalam proses pendidikan.

         Disamping pijakan filosofis sosio-normatif di atas, STPBI juga berpijak pada kearifan lokal Bali yang sudah mengakar dalam budaya Bali, yakni filosofi dan konsepsi Tri Hita Karana. Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup tangguh dengan harapan lulusan STPBI menjadi tangguh dan tetap menghormati lingkungan. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keanekaragaman budaya dan lingkungan ditengah antaman globalisasi dan homogenisasi. Pada hakikatnya, secara filosofis seluruh mahasiswa dan lulusan STPBI mampu mengharmoniskan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain.

          Mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademika STPBI dalam melaksanakan tugas-tugas akademik dan non-akademik diharapkan tetap memiliki pedoman hidup untuk menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaan kerja keseluruhan civitas akademika STPBI diupayakan seimbang dan selaras antara satu dan lainnya. Diharapkan seluruh civitas akademika selalu berupaya menjaga keseimbangan kerja. Maka, hakikat mendasar Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara Manusia dengan Tuhan nya, Manusia dengan alam lingkungannya, dan Manusia dengan sesamanya. Dengan menerapkan falsafah tersebut diharapkan dapat menggantikan pandangan hidup modern yang lebih mengedepankanindividualisme dan materialisme. Membudayakan Tri Hita Karana akan dapat memupus pandangan yang mendorong konsumerisme dan pertikaian.

Tujuan Filosofis Pendidikan di STPBI adalah

  1. Untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan dalam hal budaya, agama, suku, ras,  dan kebangsaan
  2. Menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan dalam proses pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
  3. Menjunjung tinggi konsep dan nilai-nilai pelayanan dalam proses pembelajaran
  4. Agar Dosen dan Tenaga Kependidikan  menjadi teladan bagi mahasiswa, alumni, dan masyarakat  secara moral dan intelektual
  5. Membantu perkembangan karakter (diri dan pribadi) mahasiswa berdasarkan pertimbangan; aktifitas intelektual, moral, estetika realisasi diri, kebebasan, tanggungjawab, kebajikan social, dan pengendalian diri.
  6. Mengembangkan bakat dan kepribadian mahasiswa agar mereka dapat melaksanakan kehidupan di masyarakat/negara sesuai dengan nilai-nilai yang diturunkan dari Yang Absolut yaitu Agama dan Budaya.

            Sedangkan Pola Ilmiah Pokok (PIP) sebagai jati diri keilmuan STPBI adalah “Bina - Mulia Pelayanan”. Binaberarti mendirikan, memelihara, mengembangkan, dan menyempurnakan. Muliaberarti luhur, tinggi, da bermutu.Sedangkan Pelayanan diartikan sebagai proses hubungan bantuan antara satu orang dengan orang lain atau satu kelompok dengan kelompok lain untuk mencapai tujuan orang atau kelompok tersebut.

            Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah. PIP “Bina – Mulia Pelayanan” merupakan suatu filosofi masyarakat pariwisata untuk menjunjung tinggi konsep dan nilai-nlai pelayanan dalam memenuhi kebutuhan wisatawan dan masyarakat.

  • Dibaca: 878 Pengunjung